Rayakan Imlek 2018 BXc Mall Gelar Pameran Seni “Ranah seRantau”

Rayakan Imlek 2018 BXc Mall Gelar Pameran Seni “Ranah seRantau”

Dalam Rangka Merayakan Imlek 2018, Bintaro Jaya Xchange Mall (BXc Mall) ajak pengunjung untuk bersama meruwat, merawat, dan merayakan Kebhinekaan Indonesia lewat pameran seni rupa bertajuk Ranah seRantau. Masih dalam satu rangkaian Acara Festival Panjang Umur, Pameran seni rupa ini berlokasi di Pavilion Merah Main Atrium BXc Mall ini digelar sejak tanggal 15 Februari 2018 sampai dengan 1 Maret 2018. Di dalam Pavilion Merah tersebut terdapat tujuh karya seni kelas dunia dari lima seniman kenamaan tanah air seperti Mella Jaarsma, Nindito Adipurnomo, Ariani Darmawan, FX Harsono, dan Iswanto Hartono.

  1. Legenda Penjaga Kemakmuran Dunia, The Guardians - Mella Jaarsma (2010)

    Instalasi sendok perak bergagang kaki-kaki binatang seperti kodok, ayam, kambing, bebek, dan babi yang terinspirasi Patung Singa Penjaga yang dipercaya memberikan perlindungan dan keberuntungan. Patung-patung Ini didirikan di aneka tempat yang telah dianggap kampong halaman orang Tionghoa di seluruh dunia! Budaya Tiongkok punya hewan-hewan mitos yang mirip dengan makhluk-mahkluk khayali dari aneka suku di Nusantara.

  1. Sajian Dunia Asal Cina Tumbuh Di Nusantara, High Tea Low Tea - Mella Jaarsma (2013)

    Seniman Belanda yang hidup di Yogya ini tampilkan timbangan teh, teko-teko berlukis pemandangan indah nusantara berpadu dengan celemek dan meja saji yang diselimuti taplak bergambar aneka teh Indonesia. Asli dari Tiongkok, teh dibawa penjajah Belanda dan jadi produk dagang andalan sejak abad ke-17.

  2. Seni Rupa Melawan Lupa, Writing In The Rain - FX Harsono (2011)

    Video berdurasi 6 menit 11 detik ini telah diputar di billboard Time Square yang kesohor di New York! Sang seniman berupaya menulis namanya dalam aksara China, tapi terus gagal karena terbasuh air. Ini bentuk kritikannya terhadap upaya melupakan jejak keturunan Tionghoa dalam sejarah kita. Padahal, kita pernah punya tokoh-tokoh macam Pati Unus, si Pangeran Sabrang Lor dari Demak yang gugur melawan penjajah Portugis tahun 1521, atau Liem Koen Hian yang ikut merancang UUD 1945!

  3. Kenangan Satwa Tinggal Kenangan, Trophy - Iswanto Hartono (2017)

    Instalasi ini telah dipajang di Festival Europalia tahun lalu, lho! Di pameran ini kamu bisa melihat (dan mengenakan) aneka kepala hewan yang biasa dikoleksi almarhum embah-nya seniman Iswanto Hartono, seorang peranakan yang gemar berburu. Cuma yang ini terbuat dari kertas emas. Ada kepala kerbau, menjangan, Juga badak cula satu, hewan super pemalu yang dulu tersebar di Nusantara itu kini nyaris punah.

  4. Melukis Silang Budaya Nan Mempesona, Honoured Voices #2 – Nindityo Adipurnomo

    Sebuah lukisan cat air jenis gouache di atas kertas yang memuat dua pasang kaki bertumpuk. Sepasang di antaranya adalah kaki perempuan dengan kain kebaya dan memakai kelom. The Honoured Voices #2 adalah salah satu dari rangkaian lukisan yang diciptakan Mas Nindit tentang peranakan : percampuran budaya yang menurutnya mampu menumbuhkan kebiasaan dan cara-cara baru.

  5. Budaya Tionghoa, Budaya Nusantara Jiwa, Demolition – Nindityo Adipurnomo (2012)

    Karya seniman Yogyakarta ini memadukan pertunjukan video dengan instalasi nan terbuat dari kayu jati, kawat tembaga, manik-manik, kayu kelapa, dan besi, yang didominasi warna merah. Bersama tetabuhan, petasan, dan pertunjukan barongsai, warna merah dalam perayaan Imlek dipercaya bisa mengusir roh-roh jahat. Di Nusantara ada juga, lho, aneka tradisi tari dan musik yang konon mendapat pengaruh dari kesenian Tiongkok.

  6. Anak Naga Beranak Naga, Ariani Darmawan (2006)

    Film dokumenter berdurasi 60 menit ini bercerita tentang kesenian warga Tionghoa peranakan yang telah membaur dengan aneka budaya suku Jawa, Sunda, dan Melayu : Gambang Kromong. Alat musiknya terdiri dari alat gesek asal Tiongkok yaitu kongahyan, tehyan, dan sukong, serta alat musik pukul seperti kendang, gong, dan kecrek.

Tidak hanya memamerkan karya seni dari seniman-seniman diatas, BXc Mall juga mengajak Pengunjung usia 4 – 17 tahun untuk ikut bergabung memberikan karya-karya terbaiknya melalui workshop menghias Tree of Hope yang berlokasi tepat di depan pavilion merah. Workshop Menghias Tree of Hope ini diselenggarakan di akhir pekan tanggal 23 – 25 Februari 2018. Bekerjasama dengan Ruru Kids Jakarta, adik-adik diajak untuk menuangkan ide-ide kreatif mereka kedalam sebuah karya yang memiliki makna harapan dan keinginan-keinginan mereka di tahun ini dan mendatang yang kemudian akan digantung di Tree of Hope.

Selain itu adik-adik juga diajak untuk tampil bersama PM Toh. PM Toh atau seorang yang bernama asli Agus Nur Amal merupakan Seorang seniman teater tunggal yang mengembangkan seni tutur (seni Mendongeng) tradisional Aceh, ke dalam bentuk yang lebih modern dan dapat dipahami oleh berbagai kalangan mulai dari anak-anak hingga lansia. Tujuan dari adanya workshop bersama PM Toh ini, adalah adik-adik dapat belajar untuk dapat menceritakan atau mempresentasikan karya mereka atau ide-ide yang mereka miliki.

Related